Posts tagged ‘vagina lecet’

[VULVOVAGINISTIS] Iritasi pada Organ Intim Wanita

Linda (seorang bocah berusia 4 tahun), Maya (seorang remaja wanita berusia 15 tahun), Jeni (seorang wanita yang telah mengalami menopause berusia 60 tahun), dan Lena (seorang wanita penderita Diabetes) mengalami kemerahan, gatal-gatal, rasa tidak nyaman setelah buang air kecil pada kulit di sekitar genitalnya, serta mengeluarkan lendir cukup banyak. Apa yang sebenarnya terjadi?

A. Perlindungan normal
Pada keadaan normal, kulit daerah genitalia wanita (vaginal) memiliki beberapa proteksi perlindungan, antara lain :
1. daerah kulit vaginal dilapisi oleh lapisan epitel yang tebal. Tebalnya lapisan epitel ini dapat mempersulit kuman-kuman penyakit untuk menembus ke bagian dalam vagina. Tingkat ketebalan lapisan epitel ini dipengaruhi oleh kadar hormon esterogen dalam tubuh.
2. adanya lapisan lendir yang berwarna putih/transparan, tebal, dan tidak berbau. Lapisan lendir ini menutupi lapisan epitel vaginal dan bersifat melindungi daerah vaginal dari kuman yang berbahaya. Normalnya lendir yang dihasilkan sebanyak 1-4 ml.
Pada keadaan tertentu, jumlah, kekentalan, warna, dan bau lendir dapat berubah. Saat seorang wanita dalam periode menstruasi, hamil, atau menggunakan pil kontrasepsi, jumlah dan kekentalan lendir akan bertambah. Namun, selain keadaan itu, perubahan lapisan lendir dapat menandakan terjadinya penyakit.
3. Keadaan asam (pH rendah berkisar antara 4 – 4.5) di sekitar vagina. Keadaan asam ini akan membunuh dan menghambat pertumbuhan kuman yang berbahaya. Seiring bertambahnya usia dan adanya penyakit pada daerah vaginal, pH akan meningkat sehingga daerah vaginal menjadi lebih rentan terhadap serangan kuman.
4. Rambut kemaluan yang mulai tumbuh saat wanita berusia remaja juga membantu perlindungan.

B. Apa itu Vulvovaginitis?
Walaupun kita sering mendengar kata vagina, sebenarnya daerah kulit terluar dari genitalia wanita adalah vulva. Di bagian dalam vulva barulah terdapat vagina.

Vulvovaginitis adalah iritasi/inflamasi pada kulit daerah vulva dan vagina. Iritasi ini dapat menyebabkan terjadinya
- gatal-gatal (45-58%) di sekitar daerah labia mayora (bibir vagina besar), labia minor (bibir vagina kecil), dan daerah perineal (daerah perbatsan antara vagina dan anus)
- kemerahan dan rasa seperti terbakar pada kulit (82%)
- rasa tidak nyaman pada kulit terutama pada saat atau setelah buang air kecil
- banyaknya lendir yang keluar dari vagina (62-92%)
- pendarahan (5-10%).

Ke-lima tanda-tanda ini adalah gejala yang paling sering muncul pada vulvovaginitis. Vulvovaginitis merupakan penyakit kewanitaan yang paling sering terjadi.

C. Apa penyebab vulvovaginitis?
Karena adanya sistem perlindungan normal yang kuat, maka tidak mudah bagi kuman dan bakteri dapat menimbulkan penyakit pada daerah sekitar vagina dan vulva. Namun, gangguan dari salah satu pertahanan tersebut dapat menyebabkan kita menjadi lebih rentan terkena vulvovaginitis.

Gangguan itu dapat berupa :
(a) Infeksi oleh bakteria, jamur, virus, dan parasit lainnya baik karena kurangnya kepedulian menjaga kebersihan vulva dan vagina juga oleh penyakit menular lainnya.
(b) Penggunaan bahan-bahan kimia yang terdapat pada sabun mandi, parfum, dan lainnya yang digunakan pada vulva dan vagina. Hal ini dapat mengaibatkan iritasi jaringan sekitar dan dapat mempermudah terkena vulvovaginitis.
(c) Kebiasaan sehari-hari seperti pengunaan baju basah, pengunaan celana dalam terlalu ketat, celana dalam kurang bersih, dan kebiasaan membersihkan anus sehabis BAB yang tidak tepat.

D. Siapa yang lebih rentan mengalami vulvovaginitis?
Vulvovaginitis dapat dialami oleh semua wanita dalam segala usia. Namun, beberapa kondisi dapat menyebabkan seseorang lebih rentan:
1. anak perempuan sebelum balita dan anak-anak karena kulit vulva dan vagina lebih tipis dan belum bisa mengurus kebersihan diri sendiri dengan baik.
2. pada wanita yang telah mengalami menopause.
3. pada wanita yang sering mengalami infeksi penyakit kelamin
4. pada wanita penderita diabetes mellitus
5. pada pengguna oral contraceptive (kontrasepsi yang diminum atau ditelan) dan antibiotika jangka lama
6. orang yang mengalami gangguan imunitas

E. Perubahan perilaku yang diperlukan
Pengunaan antibiotika dan obat lainnya kadang memang diperlukan untuk mengobati vulvovaginitis. Oleh karena itu, sebaiknya hubungi dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Namun, perubahan perilaku juga diperlukan. Bila hal ini terjadi pada anak kecil, ibu harus membantu anaknya dalam mengubah perilaku dan melatihnya untuk membiasakan diri.
- Pengunaan celana dalam yang bersih, tidak ketat, dan kering
Sebaiknya dibiasakan untuk mengganti celana dalam minimal 2x sehari.
- Membersihkan diri setelah buang air kecil dan buang air besar.
Membersihkan diri setelah buang air besar harus dilakukan dari arah depan ke belakang dan tidak boleh sebaliknya. Gerakan sebaliknya akan menyebabkan kumna dari anus berkumpul di sekitar vagina dan mempermudah infeksi.
- Mandi
Mandi minimal 2x sehari. Hindari pengunaan sabun mandi dan parfum dalam membersihkan bagian vulva dan vagina. Bila anak perempuan anda sedang mengalami vulvovaginitis, mandilah lebih sering ( 3x sehari ).
- Sesudah mandi
Jangan mengusap bagian valgina terlalu keras.
- Tidak menggunakan tampon yang berparfum
- Menggunakan kondom untuk mencegah penularan penyakit melalui hubungan seks.

sumber : .: tanyadokteranda :.

DAFTAR PUSTAKA
1. Eckert, Linda O. Acute Vulvovaginitis. The new england journal o f medicine. 2006;355:1244-52.
2. T Stricker, F Navratil, F H Sennhauser. Vulvovaginitis in prepubertal girls. Archives of Disease in Childhood 2003;88:324-326
3. Vandeven, Andrea M. dan Emans S. Jean. Vulvovaginitis in the Child and Adolescent. Pediatrics in Review VoL 14 No. 4 April 1993
4. Manohara Joishy, Chetan Sandeep Ashtekar, Arpana Jain, dan Rohini Gonsalves. Do we need to treat vulvovaginitis in prepubertal girls? BMJ 2005;330:186-188.
5. Audra, Robertson. Vulvovaginitis. Last Update Date: 9/19/2006 [www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000897.htm]
6. Johnstone, Joley. Vulvovaginitis. Last review: August 28, 2007. [www.aboutkidshealth.ca/HealthAZ/Vulvovaginitis.aspx]
7. Tirumani, Anuritha. Vulvovaginitis. Last Updated: Oct 17, 2006. [www.emedicine.com/med/TOPIC3369.HTM]

April 30, 2009 at 4:11 am Leave a comment


Cara Aman Memasak dengan Gas


Blog Ayahnya Anak2

April 2014
M T W T F S S
« Oct    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 49 other followers